Si Mo Menyelamatkan Dunia
Dengan cepat Si Mo berlari diantara gedung2 bertingkat yang berada di pusat kota. Nafasnya terengah sambil sesekali melihat ke belakang. Tidak peduli menginjak genangan becek atau melewati tong sampah yang sangat bau. Celana jeans hitam dan jaket kulitnya sudah penuh sobekan entah tersangkut di mana. Dia terus berlari secepat mungkin tidak peduli lari dari apa.
Sampai di sebuah lorong buntu dia terpaksa berhenti karena terhalang tembok tinggi. Sambil menyandar ke tembok dia mengatur nafasnya. “hah…. hah… ha..h..”.
Di ujung lorong lainnya dua orang berpakaian preman menyapanya mengantarkan terror yang luar biasa. Seorang pria botak tinggi kira-kira 165 cm dengan badan bongsor dan pria jangkung yang memakai kacamata hitam.
“Serahkan saja tabung yang kau ambil, Mo. Kau sudah tidak bisa lari lagi.” Ujar si botak yang sudah berjarak sepuluh langkah darinya.
Mo mengeluarkan sebuah tabung segenggaman dari saku dalam jaketnya. Dia memang tidak pernah suka pelajaran kimia, tapi dia sangat yakin benda itu adalah tabung reaksi. Namun dia tidak tau apa isinya.
“Dunia sudah menunggu untuk suatu perubahan, Mo. Ini hanya sebuah teori evolusi. Spisies kuatlah yang bertahan.” Jawaban si jangkung mengembalikan ingatannya.
Di tangannya sekarang terdapat virus yang dapat meregenerasi DNA dan adrenalin manusia. Menjadi lebih baik dalam artian buruk ataupun sebaliknya. Sesuatu yang bisa mengubah manusia menjadi…
Si botak mulai menggembungkan pipinya dan membuatnya tambah chubby. Perlahan mengangkat lehrnya dan.. FFFHHHRRRR sebuah bola api sebesar bola basket melesat dari mulutnya.
Untung Mo masih sempat tiarap. Wah, Si Botak ini makan apa seh? Batinnya.
Tidak hanya itu, kedua tangannya mulai menyala dan sekarang mulai asik melempari Mo dengan bola api lainnya.
Sambil menghindari lemparan-lemparan bola-bola api si Botak, Mo ingat bahwa ada beberapa orang memang terlahir dengan bakat unik seperti si botak. Dan cairan yang ada di tangannya, bisa membuat semua manusia punya bakat unik tersebut. Dengan kata lain bakat itu tidak special lagi. Mo tidak bisa membayangkan kalau semua orang bisa berbuat semaunya seperti si botak ini.
Tembok di sekitar Mo sudah mulai terbakar. Dia tidak tahan lagi diperlakukan seperti tikus. Tentang Si Jangkung yang dari tadi hanya menonton, entah apa yang bisa dilakukannya. Darah Mo mendidih. Tidak ingin mati konyol. Dia ingin membalas hajar SI Botak. Dia mendorong badannya dengan kedua kaki ke arah Si Botak untuk menabraknya.
BRUKKKK. Berhasil.
Si Botak tumbang terlentang, tapi Mo masih melaju cepat melewati SI Botak dan MELAYANG tiga puluh sentimeter dari atas tanah. Terkejut dengan hal ini, Mo terjatuh dan terguling. Namun, dia cepat menguasai diri. Dia melihat ke belakang dan melihat Si Jangkung sedang membantu Si Botak berdiri.
Mungkin aku bisa terbang. Pikirnya.
Tanpa bertanya-tanya lagi Mo langsung melesat ke atas dan mendapati dirinya berada di ketinggian sepuluh meter. Dia bisa melihat dua orang tadi masih berusaha mengejarnya dari atas. Dan Si Botak masih berusaha menembakinya.
Mo segera berpaling dan melaju ke depan dengan kecepatan suara.
“Dengan kecepatan ini pasti tidak ada di antara mereka yang bisa mengejar”. Batinnya senang.
Dia melambat namun masih melayang tinggi di atas kota. Dia meraba jaket kulitnya sebentar untuk memastikan tabung itu masih ada. Batinnya kembali tidak tenang saat merasa sesuatu sedang mengikutinya dari tadi. Sesuatu yang muncul dan menghilang dengan cepat. Mo berniat menambah kecepatan ketika tiba-tiba Si Jangkung muncul ajaib di depannya.
Mo menabrak Si Jangkung, dan Si Jangkung menangkap badannya. Mo melipat kaki ke dada dan menendang Si Jangkung sekuat tenaga agar bisa lepas dari dekapannya. Berhasil. Si Jangkung jatuh sementara Mo masih melayang.
Si jangkung menghilang dan muncul di belakangnya. Jangkung menendang tulang belakang Mo dan membuatnya lunglai dan jatuh. Mo cepat menguasai diri dan memprediksi kemunculan Si Jangkung. Begitu Si Jangkung muncul di depan wajahnya Si Mo membenturkan kepalanya keras-keras hingga keduanya pusing. Mo memanfaatkan kesempatan dengan terbang ke sembarang arah dengan cepat hingga jatuh di lapangan sebuah sekolah dasar. Tepat di samping tiang bendera merah putih.
Anak-anak yang ada di sekitar datang mendekat.
“Supermen, supermen…. Liat, Supermen jatuh. Tapi kok ga pake sayap sama celana dalam merah ya???” Salah seorang anak bingung dan takjub.
“Duh, orang ambruk ga ditolongin malah ditonton. Tapi untunglah SI Jangkung sudah hilang.” Desah Mo lega. Mencoba berdiri dan berjalan seperti orang normal.
Namun, tidak lama. SI Jangkung sekarang muncul di depannya dengan membawa si botak. Tangannya menyala dan bersiap melempar lagi. “Mati Kau MO!!!!” gertak Si Botak sambil melempari Mo dengan api yang cukup untuk membakar seisi sekolah. Mo tidak bisa lagi terbang menghindar. Langit dipenuhi lidah api. Mo hanya bisa tiarap dan menunggu apinya reda.
Api sudah mulai reda namun sekolah sudah terbakar. Mo ingin kabur, tapi tidak tega dengan anak-anak yang terperangkap di dalam.
Tiba-tiba Spiderman melompat di atas kepala Mo. Masuk ke dalam dan keluar membawa dua orang anak lalu masuk lagi. The Hulk menyambar Si Botak dari belakang dan melemparnya jauh-jauh. Mr. Funtastic juga datang dan menolong anak-anak. Ironman melintas di atas sekolah dan menembaki Si Jangkung dari udara. Namun Ironman meleset mengenai Wolverin. Wolverin gusar, melompat dan ga sengaja cakarnya mengenai BatMan. Ironman yang meleng tiba-tiba nabrak Superman dan begitulah sampai terjadi tawuran antar superhero di sebuah sekolah dasar.
“Allahuakbar Allahuakbar……”…
Kumandang Adzan membangunkan Mo dari lelap. DVD Spiderman, The Hulk, Iron Man, Funtastic Four, Ghost Rider dan superhero lainnya berserakan di samping monitor komputernya. Sementara di Layar masih bermain video “JUMPER” yang belum sempat ditonton sampai habis karena ketiduran.
Mo menutup jendela kerja komputernya satu persatu. Sampai hanya tersisa satu jendela kerja yang bertuliskan SyntaX error. Dia ingat akan ada ujian pagi ini. sedangkan program yang dirancang belum benar juga.
Selamat sedih super hero. Dunia tidak membutuhkanmu.